Showing posts with label Global. Show all posts
Showing posts with label Global. Show all posts

Binatang Raksasa Punah Bukan Karena Komet


Bencana besar yang menyebabkan kematian spesies mamalia raksasa termasuk mammoth, harimau bergigi besar dan berang-berang raksasa ternyata bukanlah dampak komet.



Peneliti sebelumnya menyebutkan bahwa kepunahan masal terjadi di bumi akibat komet yang menabrak bumi. Tabrakan itu memicu penurunan suhu yang sangat drastis sekitar 13 ribu tahun lalu. Perubahan iklim mendadak yang dikenal dengan pembalikan suhu Younger-Dryas ini dianggap sebagai penyebab kepunahan sebagian besar mamalia, dan leluhur manusia.
Namun, ilmuwan di Washington University, Missouri, dan Royal Hollway, University of London, menemukan bahwa kristal karbon bukanlah keseluruhan gumpalan fakta dari unsur karbon yang dikenal dengan graphene di mana ini biasanya berbentuk sedimen.
Profesor Andrew Scott, salah satu penulis di departemen ilmu bumi Royal Holloway University mengatakan, “Hasil penelitian kami meragukan salah satu potongan terakhir yang dibahas secara luas menyangkut hipotesis dampak Younger-Dryas.”


Ilmuwan menyangkal teori kontroversial itu setelah menemukan sepotong bukti kunci yang digunakan untuk mendukung gagasan dampak komet mungkin tercipta oleh proses yang lebih biasa.
Teori ini berdasarkan air segar dari sebuah gletser di danau raksasa glasial Atlantik Utara di mana arus samudra telah membantu menjaga sebagian besar es planet. Hal itu menjadi penjelasan yang paling mungkin soal perubahan iklim yang memicu kepunahan.
Manusia juga menyebar ke Amerika Utara. Namun setelah perubahan iklim yang tiba-tiba memicu munculnya zaman es terakhir, banyak dari spesies ini telah punah dan jumlah manusia diperkirakan turun menjadi hanya beberapa ribu orang.

Tiga tahun lalu, ilmuwan di University of Oregon menemukan bukti dari materi eksotis, termasuk berlian nano di sedimen berusia 12.900 tahun yang dianggap sebagai dampak dari komet yang menabrak bumi.

Namun, profesor Scott dan Tyrone Daulton dari Washington University mengatakan bahwa berlian tersebut disalahartikan karena mereka tidak menemukan bukti soal tabrakan komet.

Dr Douglas Kennett yang memimpin tim dari University of Oregon mengatakan bahwa para ilmuwan dahulu telah mencari di tempat yang salah.

“Klaim sebelumnya yang berdasarkan berlian salah alamat, tidak benar dan salah arah,” ujar Kennett. (inilah.com)

Siap-siap, Transformer Jadi Nyata

Autobots, transform and roll out! Seorang pakar robot dari Jepang bernama Kenji Ishida membangun Transformer betulan, meski dalam skala kecil. Tak jelas apakah Transformer buatan Ishida ini Autobot atau Decepticon, tapi ia benar-benar bisa menggerakkan Transformer ini dengan sentuhan satu tombol.






Ishida bekerjasama dengan JS Robotics, perusahaan pembuat pengendali jarak jauh untuk mobil, agar Transformer buatannya bisa berubah bentuk menjadi robot. Anda tidak perlu memutar bagian tubuh robot ini secara manual, ada 22 motor servo yang memungkinkan Transformer buatan Ishida ini berubah bentuk secara otomatis.

Sumber

Roket Korea Utara Siap Meluncur


 

PYONGYANG, KOMPAS.com- Roket jarak jauh milik Korea Utara kini sudah bersiap di lokasi peluncuran. Pihak Pyongyang, Korea Utara, sejauh ini menegaskan, roket ini disiapkan untuk membawa satelit untuk keperluan sipil ke luar angkasa, dan bukan sebuah misil balistik yang bisa saja membawa hulu ledak nuklir.

Wartawan kantor berita AFP, Minggu (8/4/2012), melaporkan, rezim komunis Korut utara yang biasanya tertutup penuh rahasia, tanpa diduga bersedia menerima kunjungan wartawan asing ke pusat luar angkasa Tongchang-Ri. Upaya membawa wartawan asing ini diduga untuk mengkonter tuduhan bahwa Roket Unha-3 ini adalah sebuah misil balistik.

Rezim Korut menegaskan, pihaknya akan meluncurkan satelit dengan roket Unha-3 antara tanggal 12 April gingga 16 April memperingati perayaan 100 tahun kelahiran pendiri Korut Kim Il-sung. Hari kelahiran Kim pada 15 April.

Satelit ini menurut pihak Korut untuk keperluan riset sains bertujuan damai. "Sungguh tak masuk akal mengatakan (roket) ini sebuah percobaan misil," ujar Jang Myong-Jin, kepala Pusat Luar Angkasa Korut.

Menurut Jang, peluncuran ini sudah direncanakan sejak lama, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Presiden Kim Il Sung. "Kami tidak melakukan ini untuk provokasi," tambahnya.

Roket ini akan membawa satelit Kwangmyongsong-3 (Bintang terang) ke orbit guna mengobservasi bumi dan mengumpulkan data soal sumber alam dan hutan. Pihak barat curiga Korut yang miskin sebenarnya tidak perlu melakukan pengiriman satelit ke orbit.

Jika misi ini berjalan sukses, maka akan semakin memperkuat citra Kim Jong Un yang kini memimpim Korut, sebagai seorang pemimpin Korut yang kuat menyusul kematian ayahnya Kim Jong Il bulan Desember lalu.

Misi ini juga akan memperkuat citra Kim Jong-Un yang tak kalah dengan kakeknya, Kim Il Sung yang juga merupakan pendiri Korut.

Kehadiran sekitar 50 wartawan asing di pusat luar angkasa Korut yang baru di Semanjung Cholsan, di Korut barat laut ini, merupakan yang pertama kalinya dilakukan rezim Pyongyang. Cholsan hanya sekitar 50 kilometer dari perbatasan negara itu dengan China.

Wartawan asing yang datang dengan kereta api khusus ini bisa melihat roket kontroversial tadi dari jarak sekitar 50 meter. Roket dicat warna putih dengan tulisan berwarna biru langit. Namun tidak terlihat indikasi akan segera diluncurkan.

Rencana peluncuran roket ini membuat Jepang mempersiapkan sejumlah misil pertahaan di pusat kota Tokyo. Roket Korut ini setinggi 30 meter dan berdiameter 2,5 meter. Wartawan asing juga bisa melihat dari dekat satelit yang menurut pihak Korut, memiliki berat 100 kilogram berbentuk kotak dengan lima antenna, ditutup dengan panel surya guna memasok listrik.Korut diyakini memiliki cukup plutonium untuk membuat enam samai delapan bom. Korut melakukan uji coba senjata atom pada Oktober 2006 dan Mei 2009. Uji coba ini dilakukan setelah tiga bulan mereka sukses melakukan uji misil.

Sumber : kompas

Satu Jam Kegelapan untuk Selamatkan Bumi

Earth Hour

Jangan kaget jika kotamu gelap mendadak pada tanggal 31 Maret 2012, Pkl.20.30-21.30 waktu setempat. Pasalnya, Earth Hour kembali digelar di Indonesia untuk keempat kalinya.
Tahun ini, ada 26 kota di Indonesia turut berpartisipasi memadamkan lampu. Miliaran penduduk dunia di ribuan kota lain juga akan secara sukarela melakukan hal yang sama.
Gerakan secara bersama-sama memadamkan lampu ini berawal di Sydney pada 2007. Adalah WWF-Australia, Fairfax Media, dan agen periklanan Leo Burnett Sydney pertama kali melakukannya. Saat itu, mereka ingin mengurangi gas rumah kaca pemicu pemanasan global di kota Sydney sebesar 5%.
Mereka lalu mencari aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama-sama oleh semua orang dari berbagai kalangan untuk mencegah meluasnya dampak pemanasan global.
Earth Hour atau gerakan mematikan lampu selama satu jam itu ingin mengingatkan bahwa siapapun kita, apapun latar belakang kita, di manapun kita berada, kita berpotensi untuk melakukan hal yang membantu Bumi.
Anak-anak, pelajar, politisi, CEO perusahaan, sampai kakek nenek bisa berpartisipasi dalam Earth Hour. Di tahun perdananya, ada 2,2 juta warga Sydney yang berpartisipasi di Earth Hour, memadamkan lampu mereka selama satu jam.
Di tahun kedua penyelenggaraannya, ide ini disambut baik oleh Kanada. Hanya dalam waktu singkat, 35 negara langsung bergabung mendukung Earth Hour. Baru pada tahun ketiga pelaksanaan Earth Hour internasional, Indonesia menyusul, tepatnya pada 2009.
Saat itu, hanya Jakarta saja yang mengikuti Earth Hour. Biarpun sendirian, Earth Hour di Jakarta telah menghemat 50 Megawatt dari pemadaman lima ikon Ibu Kota.
Pemilihan Jakarta sebagai kota pertama tempat dilakukannya Earth Hour di Indonesia memiliki alasan kuat. Selain statusnya sebagai Ibu Kota, konsumsi listrik warga Jakarta juga tinggi.
Berdasarkan data konsumsi listrik tahun 2008, total 23% konsumsi listrik Indonesia terfokus di DKI Jakarta dan Tangerang. Itu untuk skala kota. Jika melakukan perbandingan antar pulau, maka wilayah Jawa-Bali adalah konsumen listrik terbesar di Indonesia. Sebesar 78% konsumsi listrik negara terpusat di kedua pulau ini.

Sementara pulau-pulau lain belum mendapat akses listrik yang merata, kita yang tinggal di Jawa Bali bisa menikmati listrik sepuasnya, bahkan cenderung boros, dan langsung merengut saat mengalami pemadaman bergilir.
Padahal, kalau 10% warga Jakarta saja melakukan penghematan listrik saat Earth Hour, energi yang dihemat bisa bermanfaat memenuhi kebutuhan listrik di 900 desa dan menyediakan oksigen bagi 534 orang. Itu baru satu jam, apalagi kalau kita berhemat terus menerus?
Banyak orang bertanya, mengapa hanya satu jam? Apakah penghematan satu jam dalam setahun cukup untuk “menebus dosa” pemborosan energi listrik yang kita lakukan bertahun-tahun? Tentu saja tidak. Dan “penebusan dosa” bukan tujuan Earth Hour.

Momen satu jam ini merupakan pengingat bagi kita semua tentang efek dahsyat upaya bersama menghemat energi. Seperti peribahasa yang kita kenal, “Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Hal kecil jika dilakukan bersama-sama akan berdampak besar, seperti mematikan lampu dan alat elektronik lainnya yang tidak terpakai di rumah maupun kantor.
Di luar waktu satu jam pemadaman, justru yang lebih penting adalah menjadikan Earth Hour dan aksi go green lainnya sebagai gaya hidup. Sejalan dengan prinsip tersebut, sejak tahun 2011, ada tanda plus (+) di belakang angka 60 yang menjadi simbol Earth Hour. Ajakannya adalah, setelah 1 jam, jadikan hemat energi sebagai gaya hidup.
Untuk pelaksanaan Earth Hour pada 2012, targetnya hanya 7 kota yang akan jadi peserta. Ternyata, malah ada 26 kota di Indonesia yang akan berpartisipasi. Hebatnya lagi, tidak semua dari 26 kota yang akan ikut serta itu boros energi seperti halnya Jakarta atau Tangerang.

Alasan mereka sungguh sedap didengar: untuk apa menunggu boros terlebih dulu kalau kita bisa melakukan penghematan sejak sekarang?

“Pelipatgandaan jumlah kota yang berpartisipasi dalam Earth Hour tahun ini adalah salah satu indikator meningkatnya kepedulian publik terhadap isu-isu lingkungan khususnya hemat energi dan gaya hidup hijau. Perkembangan positif ini dimotori oleh para “jawara” komunitas dari kalangan pelajar, mahasiswa, profesional, bisnis, dan pemerintah di kota masing-masing. Semoga momen ini menjadi awal dari semakin banyak aksi yang kita lakukan bagi kelestarian rumah tunggal kita, planet Bumi,” ujar Nyoman Iswarayoga, Direktur Program Iklim & Energi WWF-Indonesia.
Earth Hour telah menjadi kampanye publik. Semua orang bisa ikut serta dalam Earth Hour 2012 dengan memadamkan minimal dua lampu di rumah pada tanggal 31 Maret 2012 mendatang. Info selengkapnya mengenai Earth Hour bisa dibaca di www.wwf.or.id/earthhour.